• SD WUKIR RETAWU
  • Bangsa yang besar dimulai dari pendidikan dasar yang bermutu

PERISTIWA ISRA DAN MI’RAJ

Oleh:

IMAM FIQRY RAMADHAN, S.Pd

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhi.

Manusia ini hidup dalam tiga dimensi waktu, masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa lalu adalah kenangan, masa sekarang adalah kenyataan dan masa yang akan datang adalah harapan, impian dan khayalan. Orang yang baik sesungguhnya adalah orang yang pandai mengambil pelajaran di masa lalu, untuk dapat menentukan sikap pada hari ini, dan sekaligus merencanakan hari yang akan datang. Sehingga hari ini, harus lebih baik dari pada hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari pada hari sekarang ini.

Dalam konteks itulah kita, pada artikel kali ini, membicarakan tentang hikmah Isra dan Mi’raj. Suatu peristiwa masa lampau yang tetap tidak kehilangan relefansinya, untuk kita jadikan pelajaran bagi kita yang hidup di penghujung abad ke 20 ini. Kalau kita perhatikan hampir setiap bulan dalam Islam ini, mempunyai nilai-nilai sejarah. Kalau kita berbicara Bulan Muharram misalnya, kita diingatkan dengan peristiwa hijrah, kita berbicara Bulan Ramadhan, diingatkan dengan peristiwa Nuzulul Qur’an, kita berbicara Bulan Syawal diingatkan dengan I’dul Fitri, kita berbicara Bulan Rabi’ul Awal diingatkan dengan Maulid Nabi, dan kalau kita berbicara Bulan Rajab ini, kita diingatkan pada peristiwa Isra dan Mi’raj.

Sebagai yang kita maklum, Al-Qur’an itu memang bukan kitab sejarah, tetapi Al-Qur’an banyak menceritakan peristiwa-peristiwa bersejarah, dan kalo kita perhatikan gaya Bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an di dalam menceritakan peristiwa-peristiwa bersejarah itu, berbeda satu dengan yang lainnya. Istimewa sekali, bahwa untuk menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj, Allah memulai ayatnya dengan menggunakan kalimat tasbih. Seperti yang kita baca dalam surat Bani Israil ayat pertama : 

Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya pada suatu malam, dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina.

Mari kita coba dekati ayat ini per kalimat, untuk memudahkan pengertian kita di dalam memahami peristiwa Isra dan Mi’raj ini. Ayat ini di mulai dengan kalimat:

, dalam ilmu balaghah kalimat semacam ini disebut dengan kalimat “IZAZ” yaitu kalimat yang redaksinya ringkas, namun isinya padat, disitu ada kata yang tersirat, yakni Lafdzul Dzalallah, yang asli kalimatnya “Subhanallahilladzi”, Maha suci Allah dan ini disebut dengan kalimat tasbih, banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang diceritakan dalam Al-Qur’an, tetapi jarang yang di awali dengan kalimat tasbih. Al-Qur’an menceritakan tentang bagaimana Allah menciptakan Nabi Adam, tidak dimulai dengan kalimat tasbih, AlQur’an menceritakan bagaimana Fira’un dan bala tentaranya di tenggelamkan di lautan merah, itu kejadian hebat tetapi tidak di mulai dengan kalimat tasbih. Al-Qur’an pun menceritakan bagaimana umatnya Nabi Shaleh, umatnya Nabi Hudd dan lain sebagainya, yang di telan gempa bumi, ditiup angina topan, seluruhnya diceritakan dalam Al-Qur’an, tetapi tidak ada satupun yang dimulai dengan kalimat tasbih.

Istimewa, untuk menceritakan Isra dan Mi’raj ini, Allah memulai ayatnya dengan kalimat tasbih  . Maha suci Allah, Maha suci dari segala kelemahan, Maha suci dari segala kekurangan dan Maha suci dari segala ketidakmampuan, Allah mempertaruhkan kesuciannya untuk menjamin kebenaran peristiwa Isra dan Mi’raj. Dan sebagai pertanda, Isra dan Mi’raj bukan sekedar perisitiwa biasa tetapi Isra dan Mi’raj adalah peristiwa yang amat, sangat luar biasa, sampai Allah Memulai ayatnya dengan menggunakan kalimat tasbih.

Lalu apa hikmah yang bisa kita ambil dari kalimat tasbih ini ?, kita tahu di dalam agama kita inikan, ibadah macam2, ada ibadah yang berat dan modalnya juga besar (membangun masjid, berat dan perlu biaya besar, melaksanakan ibadah haji, berat dan perlu biaya besar, menurut umumnya ukuran ekonomi bangsa kita), ini jenis ibadah yang berat dan perlu modal besar. Lalu adapula ibadah itu yang berat tetapi modalnya ringan, seperti puasa, puasa itukan berat, bukan menahan lapar dan hausnya yang berat tetapi esensi puasa itu sendiri, yakni kemampuan kita dalam mengendalikan hawa nafsu. Selanjutnya dia ibadah yang berat tetapi modalnya ringan,modal yang paling penting itu niat, saur. Saur itukan hukumnya Sunnah mua’kadah, yang wajib itu niat, ini jenis ibadah yang berat tetapi modalnya ringan.

Lalu adapula ibadah itu yang ringan, modalnyapun ringan. Agama menyebutnya dengan kalimatut thayibah, ucapan2 yang baik diajarkan oleh agama kita, bertemu teman “Assalamualaikum” Ibadah, memulai pekerjaan “Bismillahirrahmanirrahim” Ibadah, melihat sesuatu yang hebat “Masya Allah”, melihat sesuatu yang luar biasa “Subhanallah”, terkejut “Astagfirullah”, mendapat nikmat “Alhamdulillah”, mendapat musibah “Innalillahi Wainnailaihi Raji’un”, Ibadah dengan modal yang ringan berupa mengucapkan kata2 yang baik yang banyak diajarkan oleh agama kita. Inikan ringan membiasakan ucapan2 yang baik didalam kehidupan kita.Itu semua adalah hikmah yang bisa kita ambil dari kalimat . Kemudian kalimat selanjutnya “Asraa”, Maha suci Allah yang telah menjalankan. Asal kalimat “Asraa” ini, “Saara, Yasiiru”. Lalu di bentuk dalam bentuk majhul menjadi “Asraa, Yusrii, Israa’an”. Maha suci Allah yang telah menjalankan , segera Nampak dari ayatnya, bahwa dalam peristiwa Isra dan Mi’raj itu yang aktif sebenarnya Allah, Nabi pasif. Allah yang menjalankan, Nabi yang dijalankan. Orang di jalanin tentu terima beres, maka tidak heran, kalu beliau, berangkat dari Mekah kemudian menuju Masjidil Aqsa di Palestina, dari sana naik ke langit pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam. Ketujuh dari sana naik lagi ke Rafraful Ahdor, sampai ke Sidratil Muntaha, sampai di bawah Arsy, menerima perintah shalat. Lalu melakukan kunjungan ke surge dan neraka, kembali lagi ke Mekah tidak lebih dari 1/3 malam.

Koq bisa ya ? kalimatnya “Asraa” Allah yang menjalankan, Nabi yang di jalanin, tentu saja karena di jalankan, lalu beliau terima beres. Andai kata Rasul berjalan sendiri, jelas, tidak akan mampu menempuh jarak yang begitu jauh dalam waktu relatif singkat. Artinya di dalam memahami peristiwa Isra dan Mi’raj ini, yang di pakai bukan loga intelektualitas manusia, tetapi logika kemahakuasaan yang mutlak dari Allah SWT. Ini kalimat “Asraa”.

Kemudian kalimat “Bia’bdihi”, Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya, kenapa koq memakai kalimat tidak langsung ? apa maksudnya ? Nah, di dalam kalimat hamba, ada dua data : data pertama, kalimat hamba disini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad itu, Isra dan Mi’raj dengan ruh dan dengan jasad sekaligus, sebab apa ? orang hanya di panggil hamba kalua punya ruh dan jasad. Jasad tanpa ruh namanya mayit. Orang di panggil hamba tentunya lengkap jasad dan ruh sekaligus. Karena itu kalimat “Bia’bdihi” sudah merupakan jawaban Isra dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan dengan ruh, itu data pertama.

Lalu data yang kedua, kalimat “Bia’bdihi” ini menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad itu oleh Allah benar2 telah diakui sebagai hambanya. Maka lalu dipanggil hamba dalam ayat ini, mungkin kita bertanya2 ? kalau cuman sekedar urusan itu, apa kita ini bukan hamba Allah ? ya, tentu kita ini hamba Allah, kata siapa ? kata kita, kalau kata kita namanya mengaku, orang mengaku, tentu boleh2 saja, cuman diakui apa tidak ? ini yang jadi masalah, dengan kata lain, kalau kata2 hamba Allah keluar dari mulut manusia nilainya murah, kenapa murah ? sebab itu pengakuan, tetapi kalau keluar dari Allah sendiri itu yang mahal, maksudnya bagaimana ? berapa banyak manusia didalam hidup ini, saya hamba Allah,tetapi perbuatannya membuktikan dia hamba dunia, hamba nafsu, budak, jabatan, budak pangkat, budak harta, tidak sesuai antara ucapan dan perbuatannya.

Dari kalimat “Bia’bdihi ini kita ambil hikmah, sekali kita menjadi hamba Allah, jangan menghamba kepada yang selain Allah. Jadi dari sini kita bisa memahami, Isra yang merupakan perjalanan Nabi dari Masjidil Haram hingga ke Masjidil Aqsa, dan Mi’raj yang naiknya Nabi dari Masjidil Aqsa menghadap Allah, semata-mata merupakan peristiwa yang terjadi menurut apa maunya Allah.

Kemudian, apa tujuan dari pada Isra dan Mi’raj itu ? hakikatnya hanya Allah yang tahu tentunya. Namun kalau kita lihat di penghujung ayatnya kita akan menemukan kalimat  , keseluruhan perjalanan yang ajaib itu, tujuannya untuk kami perlihatkan kepada Nabi Muhammad itu sebagian kecil, dari pada tanda2 kebesaran kami, untuk disampaikan ke umatnya dan kemudian menjadi pelajaran di dalam mengarungi kehidupan.

Seluruh perjalanan yang dilihat oleh Nabi, seluruh pemandangan yang ditemui dalam perjalanan, itu merupakan sebagaian kecil dari tanda2 kebesaran Allah SWT. Dan itu merupakan contoh,pelajaran bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini, misalnya di dalam perjalanan, Rasul melihat ada orang yang mencakar-cakar mukanya dengan kukunya sendiri. Beliau bertanya “ya Jibril, itu orang kenapa ? Jibril menjelaskan kepada Nabi itulah contoh umatmu orang-orang yang suka memburuk-burukkan saudaranya sendiri”. Lalu beliau melihat pula ada orang yang di potong lidahnya : kata Malaikat Jibril, itu tamsil/contoh dari pada umatmu, orang-orang yang suka mengumpat kepada para pembuat fitnah, tukang menghibah dan sering menjelek-jelekan orang lain. 

Lalu beliau melihat pula dalam perjalanan ada orang yang memikul kayu, sudah cukup berat, dia merengkek-rengkek, anehnya malah, beban yang sudah cukup berat itu bukan dikurangi, malah ditambahi. Dan bertanya : Jibril, apalagi kalau ini ? Nah, Muhammad ini tamsil/contoh, dari pada umatmu, orang-orang yang dipercayakan untuk memikul suatu amanah, tetapi amanah yang satu belum dilaksanakan, tetapi sudah menerima amanah yang lain. Akhirnya bertumpuk-tumpuk dipundaknya, amanah2 yang harus disampaikan, orang yang terlalu banyak jabatan, tapi kemudian tidak mampu melaksanakan tugasnya, tapi dikasih jabatan yang baru, mau lagi. Soal mampu atau tidak itu no dua yang penting mempunyai jabatan.

Lalu beliau melihat pula ada sekolompok orang menanam, hari itu dia menanam, hari itu juga tumbuh, hari itu juga keluar buahnya. Itu contoh apanya Jibril ?, kata Malaikat Jibril, Wahai Muhammad itulah suatu contoh dari pada umatmu orang yang gemar memberikan bantuan kepada orang-orang yang memang membutuhkan. Mereka rajin bershadaqah, membantu faqir miskin, membantu biaya untuk pembangunan masjid, madrasah, lembaga pendidikan dan lain sebagainya.

Demikianlah artikel untuk kali ini, walaupun singkat, mudah-mudahan bisa memberikan gambaran tentang peristiwa Isra dan Mi’raj ini.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhi.

 

 

 

 

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Cerdas Cermat Maulid Nabi

Assalamualaikum Warohmatulloohi wabarokaatuh Silahkan anak-anak klik link di bawah ini untuk mengerjakan soal penyisihan Cerdas Cermat Maulid Nabi Muhammad SAW.   Soal Penyisihan C

28/10/2021 05:51 WIB - Administrator
SIDANG TAHFIDZ KELAS 6

Cilegon - SD PLTU SURALAYA WUKIR RETAWU mengadakan kegiatan Sidang Tahfidz Kelas 6 yang Alhamdulillah telah terlaksana Pada hari Selasa, 08/06/2021. Kegiatan Sidang Tahfidz ini Alhamdul

09/06/2021 12:02 WIB - Administrator
KURIKULUM RAMADHAN

  Ramadhan adalah madrasah, sekolah tempat dimana kita banyak sekali belajar tentang hidup dan kehidupan, supaya kita lebih siap menghadapi hidup, supaya kita punya wawasan, supay

26/04/2020 07:39 WIB - Administrator